CANDIPURO, LAMPUNG SELATAN — Penolakan paket MBG di Dusun 2 Cerucuk, Desa Sidoasri, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan membuka borok lama lemahnya pengawasan Korwil SPPG Kabupaten.
Baru setelah adanya berita kelompok penerima manfaat yang terdiri dari Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita (B3) di desa tersebut mengembalikan makanan ,Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kabupaten Lampung Selatan,Alfa Rizi angkat suara. “Siap bang. Saya langsung konfirmasi ke korcam dan ke Ka SPPG-nya ya bang supaya langsung ditindaklanjuti,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui pesan Whastap pada Senin (4/5/2026).
Pernyataan itu justru menegaskan masalah. Kenapa harus menunggu viral? Kenapa keluhan yang kata warga “sudah berkali-kali disampaikan” tak pernah sampai ke meja Korwil?
Di Posyandu Pos 2, ibu hamil dan menyusui mengaku jengkel. Menu monoton, ayam goreng kering, tempe, sayur asam, buah layu. “Udah pada komen ke dapur SPPG-nya, tapi nggak pernah direspons,” kata Y, warga Dusun 2 Cerucuk.
Kader menyebut Dapur SPPG Sidoasri “beda sendiri”. Desa lain variatif, ada ikan, telur, buah segar. Di sini jalan di tempat. Artinya, standar antar-dapur timpang. Di mana fungsi kontrol Korwil?
Pedoman MBG jelas, menu wajib beragam, bergizi seimbang, aman. Ada supervisi berjenjang dari kabupaten ke korcam ke dapur. Jika dapur bisa berbulan-bulan mengabaikan keluhan, rantai pengawasan itu putus.
Respons “siap konfirmasi” dari Korwil terdengar sigap. Tapi publik bertanya ke mana saja selama ini?
Tugas Korwil bukan pemadam kebakaran. Tugasnya memastikan dapur patuh SOP sebelum paket basi sampai ke mulut sasaran B3. Kasus Dusun 2 Cerucuk bukti pengawasan tak jalan. Korcam tak melapor, atau Korwil tak menagih laporan.
MBG bukan proyek katering. Sasarannya ibu hamil, menyusui, balita — kelompok paling rentan stunting. Menu monoton sama dengan malagizi terselubung. Buah busuk sama dengan risiko infeksi.
Jika Korwil kecolongan di satu desa, berapa desa lain yang senasib tapi tak bersuara?
BGN menyebut kontrak dapur bisa diputus jika terbukti lalai. Tapi itu hilir. Hulunya ada di Korwil. Publik tak butuh “siap koordinasi”. Publik butuh audit terbuka, berapa kali Korwil sidak ke Dapur Sidoasri? Ada tidak laporan monitoring menu? Kenapa aduan warga mandek di dapur?
Uang negara untuk MBG triliunan. Jika pengawasnya baru kerja setelah disenggol media, wajar warga bertanya: siapa mengawasi pengawas?
Catatan Redaksi
Kasus Dusun 2 Cerucuk adalah rapor merah bagi Korwil SPPG Kabupaten Lampung Selatan.Reaktif itu perlu, tapi preventif jauh lebih penting. Jangan tunggu ibu-ibu mengembalikan paket baru bergerak. Jangan tunggu bayi kurang gizi baru sidak. Pengawasan adalah nyawa program. Tanpa itu, MBG hanya jadi slogan.
(ior)











