Daerah

‎GILA! Bukan Cuma Rp900 Ribu, MTsN 1 Lamsel Bedakan Tarif Seragam: Siswi Rp1,09 Juta, Siswa Rp920 Ribu! ‎ 

1
×

‎GILA! Bukan Cuma Rp900 Ribu, MTsN 1 Lamsel Bedakan Tarif Seragam: Siswi Rp1,09 Juta, Siswa Rp920 Ribu! ‎ 

Sebarkan artikel ini

LAMPUNG SELATAN – Dugaan pungutan liar (pungli) pembelian seragam di MTsN 1 Lampung Selatan kian menggelinding. Setelah orang tua murid memprotes tarif yang mencapai ratusan ribu rupiah, kini terungkap fakta yang lebih memprihatinkan besaran pungutan dibedakan berdasarkan jenis kelamin siswa.

‎Berdasarkan informasi yang dihimpun awak wartawan dari sumber terpercaya, Senin (24/8), siswa laki-laki dipungut biaya sebesar Rp920.000. Sementara itu, siswi perempuan wajib membayar lebih tinggi hingga Rp1.090.000 atau selisih Rp170.000.

‎“Rp920.000 itu untuk laki-laki. Kalau perempuan Rp1.090.000, alasannya ada jilbab sebanyak empat helai,” ungkap salah satu wali murid yang enggan disebutkan identitasnya.

‎Selisih hampir Rp200.000 untuk empat helai jilbab pun memicu pertanyaan besar di kalangan orang tua. Sejak kapan harga empat helai jilbab mencapai angka tersebut? Apakah penetapan tarif ini benar-benar kebijakan resmi madrasah, atau ada pihak lain yang memanfaatkan situasi?

‎Belum usai keributan terkait kasus perundungan yang menimpa siswi kelas VII berinisial R (12 tahun) hingga mengalami trauma,madrasah ini kini kembali dihadapkan pada masalah dugaan pungutan yang terkesan diskriminatif. Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan penjelasan resmi terkait ketidakwajaran tarif tersebut.

‎Kepala Madrasah MTsN 1 Lampung Selatan, Rahmi Zulyana, mengaku belum mengetahui rincian biaya seragam yang diberlakukan. “Saya kurang paham soal ini, karena saya baru menjabat. Belum tahu berapa rincian bayaran seragamnya. Nanti hari Rabu saya tanyakan kepada JFU yang mengurus pengadaan seragam,” ujar mantan Kepala MIN 1 Kalianda itu melalui pesan WhatsApp, Senin (24/8).

‎Dua masalah besar menghantam MTsN 1 Lampung Selatan dalam waktu berdekatan. Kabar yang diterima awak wartawan menyebut kasus perundungan telah sepakat diselesaikan secara kekeluargaan, namun dugaan pungli seragam yang berbasis gender masih belum mendapatkan kejelasan.

‎Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman dan adil bagi seluruh siswa, justru kini diselimuti ketidakjelasan dan pembiaran.

‎(ior)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *