BWS Kalimantan III Rehabilitasi Puluhan Kilometer Jaringan Irigasi Di Batola

Mediari.co |Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, Dinas PUPR Kalimantan Selatan, maupun Dinas PUPR Batola melakukan rehabilitasi puluhan kilometer jaringan irigasi di Barito Kuala (Batola).

 

Rehabilitasi ini untuk mengantisipasi pengulangan banjir disejumlah wilayah diantaranya wilayah kecamatan Alalak, Mandastana dan Jejangkit.

 

Rehabilitasi tidak hanya dilakukan di pusat banjir, tetapi juga saluran yang berfungsi mengalirkan air ke Sungai Barito maupun Alalak.

 

Saluran yang direhabilitasi di Kecamatan Jejangkit di antaranya Desa Cahaya Baru sepanjang 4,8 kilometer, Desa Sampurna 4,95 kilometer, serta Desa Jejangkit Timur sepanjang 2 kilometer dan 8,67 kilometer.

 

Juga direhabilitasi saluran di Desa Sungai Pantai, Kecamatan Rantau Badauh, sepanjang 5,85 kilometer. Ditambah rehabilitasi saluran Desa Patih Selera, Kecamtan Belawang, sejauh 3,5 kilometer.

 

Sementara di Kecamatan Mandastana, dilakukan rehabilitasi saluran di Desa Puntik Dalam, ditambah Desa Panca Karya dan Desa Tanjung Harapan di Kecamatan Alalak sepanjang 8,05 kilometer.

 

“Kemudian untuk memelihara saluran, juga dilakukan galian waled di Desa Tabing Rimbah, Kecamatan Mandastana, sepanjang 16,7 kilometer,” jelas Chairur Razi.

 

Selain PUPR Batola, sungai-sungai atau ray yang dianggap memperparah banjir di Jejangkit, juga direhabilitasi BWS Kalimantan III.

 

“Beberapa ray ke arah Sungai Barito sudah dinormalisasi,” jelas Kepala BWS Kalimantan III, I Putu Eddy Purna Wijaya.

 

“Kecuali Ray 5. Sesuai keinginan masyarakat, mereka meminta agar pengerukan dilakukan seusai panen. Artinya dalam waktu dekat, pengerukan akan dikerjakan,” tambahnya.

 

Selain upaya normalisasi, BWS Kalimantan III juga berupaya memanfaatkan Light Detection and Ranging (Lidar).

 

Lidar merupakan teknologi penginderaan jauh terkini dalam penyediakan data pengukuran elevasi dengan cepat, sekaligus memetakan batas-batas dan kedalaman genangan banjir.

 

“Jejangkit memiliki karakter menampung air, sehingga rawan banjir terutama kalau curah hujan tinggi. Makanya air harus diatur agar dapat keluar ke arah hulu dan hilir,” Lanjutnya Putu.

 

“Kami berharap dapat menggunakan Lidar agar rehabilitasi yang dilakukan terukur. Penyebabnya irigasi perlu kemiringan agar air tak tertahan di daerah tinggi, ketika mulai surut. Pemetaan ini juga berfungsi memperbaiki desain irigasi,” kata Putu.(JK)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *