Daerah

Jaga Tunas Bangsa demi Kedaulatan Negara: Refleksi Harkitnas 2026 dalam Alur Sejarah

8
×

Jaga Tunas Bangsa demi Kedaulatan Negara: Refleksi Harkitnas 2026 dalam Alur Sejarah

Sebarkan artikel ini

Oleh     : Edi Sriyanto

Editing : Nurdin Abdullah

Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati pada 20 Mei 2026 telah memasuki usia ke-118 tahun. Tema resmi yang diangkat Kementerian Komunikasi dan Digital, “Jaga Tunas Bangsa demi Kedaulatan Negara”, bukan sekadar slogan seremonial. Tema ini merupakan panggilan reflektif untuk menengok kembali akar perjuangan bangsa yang tumbuh pada masa emas pergerakan nasional di Hindia Belanda, khususnya rentang 1908–1928.

Membaca sejarah sejatinya adalah upaya merawat ingatan kolektif bangsa. Dari sejarah, generasi hari ini memahami bahwa tegaknya organisasi, persatuan, dan kedaulatan Indonesia dibangun melalui pengorbanan panjang: air mata, gagasan, doa, dan dedikasi tanpa batas dari para pendahulu. Harkitnas 2026 menjadi cermin besar untuk melihat bagaimana titik-titik perjuangan masa lalu dapat menjadi tolok ukur ketangguhan generasi muda menghadapi tantangan zaman, mulai dari tekanan ekonomi hingga gempuran budaya digital global.

Pergerakan nasional Indonesia bermula dari gerakan yang bersifat kultural. Budi Utomo yang lahir pada 20 Mei 1908 didirikan para pelajar STOVIA di Batavia atas gagasan Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Soetomo. Meski awalnya berfokus pada pendidikan kaum priyayi Jawa, organisasi ini menjadi embrio perubahan besar: peralihan dari perlawanan fisik yang terpecah menuju perjuangan modern berbasis organisasi.

Pada tahun yang sama, kesadaran kebangsaan juga tumbuh di luar negeri melalui Indische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia. Berawal sebagai wadah sosial mahasiswa Hindia Belanda di Negeri Belanda, organisasi ini berkembang menjadi gerakan politik nonkooperatif di bawah kepemimpinan Mohammad Hatta pada periode 1922–1925. Dari sinilah istilah “Indonesia” ditegaskan sebagai identitas politik, sekaligus menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme.

Kesadaran nasional kemudian menjangkau lapisan masyarakat bawah melalui Sarekat Dagang Islam yang berkembang menjadi Sarekat Islam pada 1911–1912. Di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto, organisasi ini tampil sebagai gerakan massa terbesar yang memperjuangkan keadilan sosial dan hak politik rakyat pribumi. Gerakan tersebut berangkat dari ikhtiar melindungi saudagar batik pribumi di Surakarta dari tekanan ekonomi kolonial.

Pada saat yang sama, kesadaran keagamaan dan sosial juga diperkuat. Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 menitikberatkan pembaruan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Sementara Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang didirikan Syeikh Ahmad Surkati pada 6 September 1914 membawa semangat kesetaraan dan modernisasi pendidikan Islam di kawasan perkotaan.

Di jalur politik, Indische Partij yang didirikan Tiga Serangkai pada 25 Desember 1912 tampil lebih radikal dengan secara terbuka menyerukan kemerdekaan tanpa membedakan latar belakang suku maupun keturunan. Semangat ini turut melahirkan organisasi kepemudaan daerah seperti Jong Java dan Jong Sumatranen Bond, yang kemudian menjadi tempat tumbuhnya tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Yamin dan Sutan Sjahrir.

Memasuki dekade 1920-an, dinamika pergerakan nasional semakin kompleks. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berdiri pada 23 Mei 1920 membawa gagasan marxis ke kalangan buruh dan tani. Perkembangan ini memicu perpecahan dalam tubuh Sarekat Islam menjadi SI Putih yang dipimpin Tjokroaminoto dan Agus Salim, serta SI Merah yang dipimpin Semaun dan kemudian berkembang menjadi Sarekat Rakyat.

Di sisi lain, gerakan keagamaan terus menunjukkan kematangan dalam merespons perubahan zaman. Persatuan Islam (Persis) yang berdiri di Bandung pada 12 September 1923 memperkuat tradisi pembaruan pemikiran Islam melalui media cetak dan pendidikan. Sementara Jong Islamieten Bond (JIB) yang lahir pada 1 Januari 1925 menjadi ruang pembinaan pelajar Muslim sekolah Barat agar tetap memiliki akar spiritual dan identitas keislaman yang kuat.

Puncak konsolidasi gerakan keagamaan tampak dalam perjalanan KH Abdul Wahab Hasbullah. Sepulang dari Makkah, ia mendirikan forum diskusi Tashwirul Afkar pada 1914, madrasah Nahdlatul Wathan pada 1916, koperasi Nahdlatut Tujjar pada 1918 atas restu KH Hasyim Asy’ari, hingga organisasi pemuda Syubbanul Wathan pada 1924.

Ketika dinamika politik Timur Tengah berubah akibat pergantian kekuasaan di Makkah, KH Abdul Wahab Hasbullah membentuk Komite Hijaz untuk memperjuangkan kepentingan umat Islam Nusantara. Atas petunjuk istikharah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, berdirilah Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926 di Surabaya. NU kemudian tampil sebagai benteng kultural dan keagamaan yang mengonsolidasikan jaringan pesantren sekaligus menjaga identitas Islam Nusantara di tengah tekanan kolonialisme.

Pada tahun berikutnya, Ir. Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927 dengan membawa semangat Marhaenisme dan sikap nonkooperatif terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Seluruh arus perjuangan itu akhirnya menemukan titik temu melalui Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) pada 1926. Di bawah kepemimpinan Sugondo Djojopuspito, berbagai organisasi pemuda meleburkan ego kedaerahan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa—Indonesia. Momentum itu menjadi tonggak penting yang menegaskan bahwa kedaulatan bangsa hanya dapat ditegakkan di atas fondasi persatuan.

Jika menilik perjalanan emas 1908–1928, relevansi tema Harkitnas 2026 tampak begitu jelas. “Tunas bangsa” pada 1908 adalah para pelajar STOVIA yang bergerak melalui pendidikan dan organisasi modern. “Tunas bangsa” pada 1926 adalah para ulama, santri, dan pemuda yang menjaga nilai keagamaan sekaligus menanamkan semangat bela negara.

Hari ini, medan perjuangan memang telah berubah. Generasi muda tidak lagi menghadapi moncong senjata kolonial, melainkan arus informasi tanpa batas, adiksi gawai, judi daring, disinformasi, hingga penetrasi budaya global yang perlahan mengikis karakter dan identitas bangsa.

Menjaga tunas bangsa berarti memastikan generasi muda tidak terjebak menjadi masyarakat konsumtif di tengah tekanan ekonomi global. Kedaulatan negara tidak akan kokoh jika anak-anak muda hanya menjadi pasar, bukan pelaku inovasi dan penggerak ekonomi. Karena itu, tema Harkitnas 2026 sejatinya mengajukan pertanyaan besar kepada kita semua: mampukah kita melahirkan generasi yang unggul dalam teknologi tanpa tercerabut dari akar budaya dan nilai kebangsaannya?

Belajar dari sejarah, Harkitnas 2026 semestinya menjadi momentum bersama untuk merawat, mendidik, dan menyatukan seluruh potensi generasi muda Indonesia. Ketika tunas bangsa tumbuh dalam ekosistem yang sehat—yang memadukan kecerdasan intelektual, kemandirian ekonomi, kekuatan budaya, dan keluhuran spiritualitas—maka kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan tetap tegak menghadapi tantangan zaman.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2026.(*)

Pewarta : Nurdin Kamini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *