Berita

Trauma Berat usai Celana Training Hampir Terlepas, Siswi MTs N Kalianda Enggan Sekolah

9
×

Trauma Berat usai Celana Training Hampir Terlepas, Siswi MTs N Kalianda Enggan Sekolah

Sebarkan artikel ini

KALIANDA – Seorang siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs N) Kalianda, Lampung Selatan, mengalami trauma berat usai diduga menjadi korban perundungan (bullying) oleh sekelompok temannya sendiri. Korban berinisial R (12), siswa kelas VII asal Jalan Cinta, Kelurahan Way Urang, Kalianda, bahkan ketakutan dan menolak untuk kembali bersekolah sebelum persoalan ini tuntas.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Jumat (21/8) di salah satu ruang kelas sekolah yang berada di Jalan Lintas Sumatera, tak jauh dari rumah dinas Bupati Lampung Selatan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden bermula saat sejumlah siswa tengah mengenakan pakaian olahraga. Salah seorang siswa diduga memeloroti celana training yang dikenakan R.

Tak terima diperlakukan demikian, R sempat membalas. Namun, aksi tersebut justru berbuntut panjang. Sejumlah siswa lain malah ikut-ikutan memeloroti celana korban hingga hampir melorot ke dengkul.

“Ibu, saya enggak mau sekolah lagi. Saya mau pindah,” ujar R dengan isak tangis di hadapan orang tuanya, seperti disampaikan dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/8).

Orang tua R, Huri (37), mengaku baru mengetahui kejadian tersebut setelah putrinya menangis histeris dan ngotot pindah sekolah. Setelah didesak, barulah R menceritakan seluruh pengalaman pahit yang dialaminya di sekolah.

“Saya langsung hubungi salah satu guru. Tadi (Sabtu) saya dipanggil pihak sekolah,” ujar Huri.

Namun, Huri menyayangkan langkah sekolah yang dinilai tidak adil. Pihak sekolah hanya mengundang dirinya selaku orang tua korban, sementara orang tua atau wali murid dari para siswa yang diduga terlibat justru mangkir dari undangan.

“Harusnya orang tua atau wali murid yang terlibat permasalahan itu juga diundang. Ini tidak adil rasanya,” sesal Huri dengan nada kecewa.

Tak hanya aksi fisik di dalam kelas, Huri yang didampingi kerabatnya, Wawan, juga mengungkapkan bahwa putrinya mendapat teror psikis. Korban menerima pesan singkat berisi kata-kata tidak senonoh hingga ancaman melalui aplikasi WhatsApp.

“Ada ancaman di WA, mau ditandai anak saya. Apa maksudnya ini? Ini bukan sekadar bercanda. Sampai anak saya menangis ketakutan,” tutur Huri.

Meski sempat berniat melaporkan kasus ini ke jalur hukum, Huri memilih menahan diri dan memberi kepercayaan penuh kepada pihak sekolah untuk menyelesaikan secara internal. Namun, ia meminta agar ada sanksi tegas bagi para pelaku.

Hingga berita ini diterbitkan, mediari mencoba mendatangi MTs N 1 Lampung Selatan untuk mengonfirmasi langsung penanganan kasus dugaan perundungan yang menimpa siswi kelas VII berinisial R tersebut.

Pantauan di lokasi, sekolah yang beralamat di Jalan Soekarno Hatta No 50 Km 54 Kecamatan Kalianda tampak dalam kondisi normal. Namun, awak media belum diberikan kesempatan untuk bertemu dengan pihak pimpinan madrasah guna meminta klarifikasi resmi.

Sejumlah guru yang ditemui mediari mengaku belum mengetahui secara pasti detail kronologi kejadian, termasuk proses mediasi yang digelar pada Sabtu (22/8) bersama orang tua korban.

 

Bersambung… (*)

(ior)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *