Oleh : Apriyan Sucipto, Kandang Sapi
Anak-anakku…
Tadi pagi aku mengayuh sepeda ontel, sepeda tua yang dulu mengantar revolusi. Kini aku kulihat jalan-jalan itu sudah berubah.
Dulu kita berjuang dengan bambu runcing agar Merah Putih berkibar. Hari ini, aku lihat Merah Putih itu tidak hanya berkibar di tiang bambu, tapi menyala di layar-layar kecil yang kalian genggam. Setiap anak memegang dunia di tangannya. Dahsyat!
Aku melihat Gelora yang kubangun dengan keringat bangsa. Dulu ia adalah simbol bahwa bangsa yang baru merdeka bisa membangun istana olahraga terbesar di Asia. Hari ini, ia masih berdiri tegak, masih berdenyut. Anak-anak muda berlari di sana, bukan untuk perang, tapi untuk kesehatan, untuk prestasi. Jiwanya tetap sama: JAS MERAH, tapi juga JAS MERAH JAMBU, jangan sekali-kali melupakan sejarah sambil tertawa!
Tapi anak-anakku…
Aku juga melihat gedung-gedung menjulang tinggi menusuk langit Jakarta. Aku bangga. Tapi aku bertanya: apakah tinggi gedung itu setinggi cita-cita keadilan sosial yang dulu kita tulis di atas kertas?
Aku melihat kalian terkoneksi satu sama lain, dari Sabang sampai Merauke, hanya dalam hitungan detik. Dulu aku harus berpidato berjam-jam agar suaraku sampai ke ujung pulau. Sekarang satu jempol bisa menggetarkan Nusantara. Teknologi ini hebat. Tapi ingat pesanku:
Jangan pernah menjadi bangsa kuli di negeri sendiri. Jangan biarkan alat-alat canggih itu yang mengendalikan kalian. Kalian yang harus mengendalikan alat!
Kalau di tahun 1945 musuh kita jelas: kolonialisme. Di tahun 2026, musuh kalian lebih halus: perpecahan. Aku lihat di layar-layar itu, kalian mudah sekali bertengkar karena beda pilihan, beda suku, beda cara. Hei! Bukankah sudah kubilang, kita ini BHINNEKA TUNGGAL IKA! Berbeda-beda tapi satu tujuan!
Aku melihat bangsa ini besar, sangat besar. Ekonomi kalian tumbuh, anak-anak kalian sekolah tinggi-tinggi. Tapi jangan lupa: bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan akarnya. Kekayaan alammu harus untuk rakyat, bukan untuk segelintir orang.
Jadi, wahai bangsaku di tahun 2026…
Teruslah mengayuh. Seperti sepeda ontel ini. Kalau berhenti mengayuh, ia akan jatuh. Indonesia pun begitu. Teruslah mengayuh dengan gotong royong, dengan persatuan, dengan api yang menyala-nyala di dada!
Merdeka! Merdeka! Merdeka! (rls)
Pewarta : Nurdin Kamini











