Lampung Selatan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lampung Selatan menyimpan potensi ekonomi desa hingga Rp1,6 triliun per tahun. Namun dari 123 Dapur SPPG yang aktif, baru satu dapur yang resmi bermitra dengan BUMDes sebagai pemasok bahan baku.
Satu-satunya dapur yang sudah terikat kontrak hukum dengan BUMDes adalah Dapur BGN di Desa Beringin Kencana, Kecamatan Candipuro. Langkah ini dipuji banyak pihak sebagai percontohan konkret arahan Presiden, MBG harus menggerakkan ekonomi desa.
Dinas PMD Lampung Selatan membenarkan bahwa 122 dapur SPPG lainnya saat ini masih belanja bahan baku tanpa perikatan hukum dengan BUMDes.
Menindaklanjuti surat Pemprov Lampung, Kepala Dinas Dinas PMD Lampung Selatan, Erdiansyah mengatakan telah mengajukan 56 BUMDes yang dinilai siap dan layak menjadi pemasok SPPG. Seluruh BUMDes usulan itu telah memenuhi syarat terverifikasi, memiliki NIB, NPWP, unit usaha pangan, serta komitmen produksi.
“Daftar 56 BUMDes sudah kami serahkan dan sekarang berada di meja tim SPPG provinsi. Kami tinggal menunggu arahan lebih lanjut,” ujar dia.
Jika dihitung, dengan 123 dapur melayani rata-rata 3.000 porsi per hari dan alokasi belanja bahan Rp15.000 per porsi, maka potensi perputaran uang dari program MBG di Lamsel sangat besar.
Artinya, ada potensi minimal Rp480 miliar setahun yang bisa langsung menghidupi unit usaha pangan milik 56 BUMDes jika skema kemitraan ini berjalan.
Terkendala Harga dan Kepastian Pasar
Sumber di lapangan menyebut lambannya penunjukan BUMDes terkendala dua hal. Pertama, semua pihak menunggu arahan tertulis dari Gubernur Lampung karena MBG adalah program pusat. Kedua, BUMDes butuh jaminan pasar dan kepastian harga.
Pertanyaan Besar,jika Satu Desa Bisa, Kenapa Lain Tidak?Keberhasilan Beringin Kencana membuktikan BUMDes mampu menjadi pemasok resmi SPPG. Pertanyaan yang muncul di publik, dengan potensi triliunan rupiah, kenapa percepatan penunjukan 55 BUMDes lain masih menunggu?
Desakan agar Pemprov segera menerbitkan arahan tertulis kian menguat. Tujuannya satu memastikan semangat MBG sebagai penggerak ekonomi desa tidak berhenti jadi jargon.











