Lampung Selatan — Rakyat disuruh makan bergizi, tapi dapurnya kok asal-asalan? Sejumlah dapur Makan Bergizi Gratis alias MBG di Lampung Selatan ketahuan nekat beroperasi meski syaratnya bolong-bolong. Padahal aturan dari Badan Gizi Nasional udah jelas: dapur SPPG wajib punya IPAL alias Instalasi Pengolahan Air Limbah. Tanpa itu, haram hukumnya jalan. Nyatanya? Lolos juga tuh verifikasi.
Kok bisa?
Warga udah curiga dari lama. Apalagi pas inget kasus di pusat: tiga eks bos BGN — Dadan, Lodewijk, Soni — sekarang jadi tersangka Kejagung gara-gara main lolosin yayasan mitra SPPG yang gak layak. Polanya sama persis, syarat dilipat, mitra tetap jalan.
Di Lampung Selatan, sorotan paling tajam jatuh ke Korwil BGN, Alfarizi. Orang ini diduga rangkap jabatan. Katanya dia Korwil, tapi kok malah jadi Kepala SPPG Yayasan Prabu Center Kosong Delapan di Desa Merbau Mataram?
Padahal Perpres 115 Tahun 2025 udah teriak: Korwil dilarang jadi pengelola dapur MBG. Tujuannya biar gak ada konflik kepentingan. Yang ngawasin jangan sekaligus yang dilaksanain. Peraturan BGN No. 6 Tahun 2024 juga bilang Korwil itu pengawas, bukan tukang masak di dapur.
PENGAWASAN MANDUL, IPAL AMBURADUL
Masalahnya bukan cuma IPAL yang gak ada. Yang bikin rakyat naik darah, Korwil BGN diem aja.Mulai dari SPPG milik anggota DPRD Lampung Selatan hingga kasus paling faktual keluhan sejumlah warga, dari SPPG Kedaton Kecamatan Kalianda sampai SPPG Sukanegara Kecamatan Tanjung Bintang diduga bermasalah IPAL-nya, tapi sampai hari ini masih ngepul. Gak ada teguran, gak ada sanksi.
Hasil penelusuran di lapangan bikin geleng kepala. Banyak dapur MBG yang udah operasi tapi lokasinya gak layak,deket selokan, becek, bau. Bangunannya kekecilan, gak sesuai spek BGN. Fasilitas dapur wajib banyak yang gak ada.
Padahal semua itu syarat mati. Gak boleh ditawar.
BOM WAKTU: RIBUAN LITER LIMBAH BERMINYAK TIAP HARI
Ini yang gak banyak orang tahu. Dapur MBG itu tiap hari ngeluarin ribuan liter air cucian berminyak, sisa lemak daging, dan limbah organik cair. Kalau gak ditangani, ini jadi bom waktu buat lingkungan. Sungai tercemar, sumur warga bau, penyakit datang.
Makanya IPAL MBG itu bukan pajangan. Dia nadi operasional. Tanpa IPAL, dapur gak boleh jalan. Titik.
Terus jumlah SPPG yang katanya beroperasi juga gak akur. Per 9 Juni 2025, web BGN nulis 161 SPPG jalan. Tapi data Satgas MBG cuma 146 SPPG. Selisih 15. Ke mana sisanya?
Data Satgas MBG: Bakauheni 3, Candipuro 11, Jatiagung 19, Kalianda 12, Katibung 9, Ketapang 7, Merbau Mataram 8, Natar 23, Palas 7, Penengahan 5, Rajabasa 3, Sidomulyo 10, Sragi 3, Tanjung Bintang 10, Tanjung Sari 4, Waypanji 2, Waysulan 5.
SATGAS NGAKU: IPAL JADI BATU SANDUNGAN
Menurut keterangan resmi Satgas MBG Provinsi Lampung pada 25 Mei 2026, untuk wilayah Lampung Selatan total ada 42 dapur. Yang lagi proses penerbitan SLHS ada 23 dapur.
Masalah terbesar? IPAL dan uji air.
Kebanyakan dari dapur ini IPAL-nya kurang standar dan biaya untuk pembuatannya pun cukup mahal. Namun ini jadi hal wajib yang harus dipenuhi untuk menjamin keselamatan penerima manfaat, sehingga kami terus mendorong agar segala proses bisa sesuai dengan standar aturan yang berlaku,” kata Saiful Ketua Pelaksana Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Lampung, dikutip di laman Antara.
Jadi udah ngaku kan, banyak yang gak standar. Tapi kok tetap dibiarin operasi?
DLH LAMSEL: KAMI SIAP BANTU, TAPI GAK ADA YANG NGAJUKAN
Kepala DLH Lampung Selatan, Yespi Cory, angkat tangan. Katanya mayoritas dapur MBG gak pernah ngajuin rekomendasi teknis IPAL ke DLH. Padahal surat edaran Pemda soal wajib IPAL udah disebar ke semua Kepala SPPG.
”DLH siap dampingi, supervisi, evaluasi rutin pembangunan dan operasional IPAL di tiap SPPG,” kata Yespi ke media.
Parahnya, ada dapur MBG punya anggota DPRD Lampung Selatan yang juga diduga gak punya IPAL standar. Warga sekitar udah ngeluh bau busuk dari limbah dapurnya.
KORWIL MASIH BUNGKAM
Sampai berita ini naik, Korwil BGN Lampung Selatan Alfarizi belum kasih suara. Gak ada penjelasan soal dugaan rangkap jabatan. Gak ada klarifikasi kenapa SPPG gak layak kok dilolosin.
Publik cuma bisa nanya, Program buat rakyat, tapi kok yang kenyang duluan oknum? Pengawasan ke mana? IPAL ke mana? Duit negara ke mana? Kalau yang ngawasin malah ikutan main, terus rakyat harus lapor ke siapa?
(*)











