Berita

Ryamizard Ryacudu Wafat di Usia 76 Tahun, Jejak Jenderal Nasionalis yang Setia pada NKRI

21
×

Ryamizard Ryacudu Wafat di Usia 76 Tahun, Jejak Jenderal Nasionalis yang Setia pada NKRI

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Jakarta _Ryamizard Ryacudu tutup usia pada umur 76 tahun. Indonesia kehilangan salah satu prajurit terbaiknya, seorang Jenderal TNI yang dikenal luas karena dedikasi, profesionalisme, serta keberaniannya dalam mengambil keputusan dan risiko demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di mata banyak kalangan, Ryamizard merupakan sosok jenderal nasionalis sekaligus demokratis yang senantiasa menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya.

Ryamizard lahir dari keluarga militer. Ia merupakan putra dari Mussanif Ryacudu, seorang perwira TNI yang memiliki kedekatan dengan Presiden pertama RI, Soekarno. Pada masa pemerintahannya, Soekarno memberikan berbagai penugasan penting kepada Mussanif, termasuk dalam operasi pembebasan Irian Barat pada 1962 dan operasi mempertahankan Kalimantan dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia pada 1963. Seiring perjalanan sejarah, Mussanif dikenal sebagai salah satu loyalis Soekarno.

Selain berasal dari keluarga pejuang, Ryamizard juga terhubung dengan keluarga besar militer Indonesia melalui pernikahannya dengan Nora Tristyanti, putri sulung Try Sutrisno. Hubungan tersebut semakin memperkuat posisinya sebagai figur yang tumbuh dalam tradisi pengabdian kepada bangsa dan negara.

Kepercayaan Megawati Soekarnoputri terhadap Ryamizard tidak lahir tanpa alasan. Profesionalismenya terlihat ketika ia memimpin Kodam Jaya sebagai Panglima Kodam Jaya pada masa transisi politik pascareformasi. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, Ryamizard dinilai mampu menjaga stabilitas ibu kota dengan tetap berpegang teguh pada konstitusi dan menjauhkan diri dari intrik politik praktis.

Penilaian tersebut membuat Megawati memberikan kepercayaan yang lebih besar kepadanya. Pada 2002, Ryamizard diangkat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD). Kepemimpinannya dikenal taktis, penuh perhitungan, serta berlandaskan kesetiaan terhadap Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Karakter itulah yang menjadikannya salah satu perwira paling dipercaya pada masanya. Bahkan setelah memasuki masa purnatugas, hubungan emosional dan komunikasi kebangsaan antara Ryamizard dan Megawati tetap terjalin dengan baik, terutama karena kesamaan pandangan mengenai nasionalisme, kedaulatan negara, dan kepentingan rakyat.

Setelah pensiun dari TNI, Ryamizard tetap aktif dalam berbagai diskusi mengenai pertahanan negara, keamanan nasional, serta upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme. Aktivitasnya banyak terfokus pada gerakan dan forum kebangsaan yang membahas tantangan strategis Indonesia di masa depan.

Menjelang Pemilu 2014, namanya sempat menguat sebagai salah satu figur yang dipertimbangkan menjadi calon wakil presiden dari PDI Perjuangan. Meskipun tidak akhirnya maju dalam kontestasi tersebut, pengalaman, kapasitas, dan rekam jejaknya membuat ia dipercaya menjabat Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Penunjukan itu dilakukan pada pemerintahan Joko Widodo dengan dukungan dan rekomendasi dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Kini, Sang Jenderal Nasionalis telah berpulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Namun, warisan pengabdiannya bagi bangsa, komitmennya terhadap profesionalisme TNI, serta keteguhannya dalam menjaga keutuhan NKRI akan tetap dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia. Sosok Ryamizard Ryacudu meninggalkan teladan bahwa loyalitas kepada negara, profesionalisme, dan keberanian dalam mengambil tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus bangsa.(*)

Pewarta : Nurdin Kamini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *