LAMPUNG SELATAN_Sekitar 2.500 jamaah memadati kawasan Kramat Saksi, Dusun II Banyu Urip, Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (8/8/2026).
Ribuan jamaah tersebut hadir dalam rangkaian Haul Muhammad Aji Saka yang digelar bersamaan dengan Istighotsah Kubro dan Majelis Istighotsah Al-Istiqomah. Kegiatan berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang dengan suasana khidmat dan penuh kebersamaan.
Rangkaian kegiatan diisi dengan tahlil, istighotsah, doa bersama serta mauidhotul hasanah. Jamaah dari berbagai wilayah mengikuti seluruh rangkaian acara sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dikenal dalam tradisi masyarakat setempat sebagai Ratu Darah Putih.
Dalam materi kegiatan, Muhammad Aji Saka disebut sebagai Syekh Muhammad Aji Saka bin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Haul tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang tokoh yang dihormati masyarakat, tetapi juga menjadi ruang memperkuat silaturahmi, ukhuwah Islamiyah serta menjaga keberlangsungan tradisi keislaman yang berkembang di Lampung Selatan.
Sejumlah ulama, tokoh agama, pengurus Nahdlatul Ulama (NU), unsur pemerintahan, serta tokoh masyarakat turut hadir. Di antaranya KH Nur Mahfudz Attijani, KH RM Soleh Bajuri, KH Ahmad Rofiqudin, Satria Mandala selaku Ketua MWCNU Penengahan, Camat Penengahan, unsur KUA Penengahan, Hj. Nunuk Nirwana selaku Ketua Majelis Istighotsah Al-Istiqomah Lampung Selatan, Kyai Sofyan selaku Mustasyar MWCNU, serta Kyai Yayan Daryani selaku Rais Syuriyah MWCNU Bakauheni.
Doakan Lampung Aman dan Berkah
Istighotsah dipimpin KH Nur Mahfudz Attijani. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh jamaah memanjatkan doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan masyarakat Lampung.
Menurutnya, Kramat Saksi menjadi salah satu tempat yang diyakini masyarakat memiliki keterkaitan dengan tokoh yang dihormati dalam tradisi keislaman setempat. Karena itu, momentum haul dan istighotsah diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperkuat doa sekaligus mempererat silaturahmi.
“Di majelis haul dan istighotsah ini kita bersilaturahmi dan berdoa bersama untuk Lampung agar aman, selamat dan berkah. Semoga masyarakat, jamaah yang hadir, serta keluarga senantiasa mendapat keberkahan dan dijauhkan dari bala dan bencana,” ujar KH Nur Mahfudz.
Ia juga menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, menjaga peninggalan para pendahulu bukan semata-mata berkaitan dengan benda atau tempat bersejarah, tetapi juga mencakup nilai, ajaran dan tradisi keagamaan yang diwariskan kepada generasi penerus.
Semangat menjaga warisan tersebut, lanjutnya, perlu berjalan seiring dengan kepedulian terhadap daerah dan lingkungan. Ia pun mengaitkannya dengan semangat program HELAU Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.
“Nguri-uri” peninggalan sejarah Islam, kata dia, merupakan bagian dari upaya menjaga nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan para pendahulu kepada masyarakat.
Dalam tausiyahnya, KH Nur Mahfudz juga mengutip ungkapan “Kammim Masyhurin bi Barokatim Mastur” sebagai refleksi tentang keberkahan yang dapat diperoleh melalui penghormatan kepada para pendahulu dan orang-orang saleh.
Ia menilai, memperkuat silaturahmi melalui majelis haul dan istighotsah merupakan salah satu ikhtiar untuk menjaga Lampung tetap aman, damai dan penuh keberkahan.
Tekankan Pentingnya Tawasul dan Sanad
Sementara itu, mauidhotul hasanah disampaikan KH RM Soleh Bajuri. Ia mengajak jamaah bersyukur karena dapat berkumpul dalam majelis keagamaan bersama para ulama dan dzurriyah Rasulullah, khususnya dalam momentum haul Muhammad Aji Saka bin Syekh Syarif Hidayatullah.
Dalam tausiyahnya, KH Soleh Bajuri menekankan pentingnya tawasul dan sanad dalam kehidupan beragama.
Menurutnya, sanad memiliki posisi penting dalam kesinambungan keilmuan Islam karena melalui sanad dapat diketahui jalur ilmu yang diterima dan dipelajari seseorang.
Dengan sanad, hubungan keilmuan dapat ditelusuri sehingga seseorang memiliki jalur yang jelas dalam menerima dan memahami ajaran agama.
Selain persoalan tawasul dan sanad, ia juga mengingatkan jamaah mengenai pentingnya menjaga silaturahmi.
“Pentingnya silaturahmi, karena dengan silaturahmi kita dapat mempererat hubungan dan menjaga kebersamaan,” pesannya.
Rangkaian acara diawali dengan tahlil dan istighotsah yang dipimpin KH Nur Mahfudz Attijani. Selanjutnya, doa dipimpin secara bergantian oleh KH RM Soleh Bajuri, KH Ahmad Rofiqudin dan Kyai Nadzir Al-Qoitsi.
Gotong Royong Jadi Kunci Kesuksesan
Ketua MWCNU Penengahan, Satria Mandala, menyampaikan apresiasi kepada seluruh jamaah dan berbagai pihak yang telah bergotong royong mendukung terselenggaranya kegiatan.
Ia menilai, suksesnya pelaksanaan haul dan istighotsah tidak terlepas dari kebersamaan serta dukungan masyarakat, khususnya jamaah NU.
“Terima kasih atas kehadiran dan support jamaah NU yang bergotong royong menyelenggarakan acara tersebut dengan sukses,” ujar Satria.
Apresiasi serupa disampaikan Ketua Majelis Istighotsah Al-Istiqomah Lampung Selatan, Hj. Nunuk Nirwana. Ia bersyukur majelis yang dipimpinnya dapat mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, Majelis Istighotsah Al-Istiqomah turut serta menyelenggarakan kegiatan ini. Semoga kebersamaan dalam majelis ini menjadi wasilah untuk mempererat silaturahmi, menumbuhkan kecintaan kepada ulama dan dzurriyah Rasulullah, serta membawa keberkahan bagi masyarakat Lampung Selatan,” ungkapnya.
Kehadiran sekitar 2.500 jamaah menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan keagamaan di Kramat Saksi.
Haul Muhammad Aji Saka yang dirangkaikan dengan Istighotsah Kubro tersebut pun tidak sekadar menjadi momentum mengenang tokoh yang dihormati masyarakat, tetapi sekaligus menjadi ruang memperkuat ukhuwah, melestarikan tradisi keislaman dan menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Kegiatan di Dusun II Banyu Urip, Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan itu berlangsung hingga menjelang siang dan seluruh rangkaian acara diikuti jamaah dengan tertib dan khidmat.(*)
Pewarta : Nurdin Kamini
Sumber : Edy Sriyanto/rls











