Berita

‎MUI Diam, Laskar Lampung Murka: Tutup Ponpes Walisongo, Sarang Maksiat!

1
×

‎MUI Diam, Laskar Lampung Murka: Tutup Ponpes Walisongo, Sarang Maksiat!

Sebarkan artikel ini
Ketua DPC Laskar Lampung Indonesia Kabupaten Lampung Utara, Adi Candra

LAMPUNG UTARA — Ketua DPC Laskar Lampung Indonesia Kabupaten Lampung Utara, Adi Candra, meledakkan kemarahannya atas sikap diam MUI Provinsi Lampung terkait kasus dugaan pencabulan lima santriwati di Pondok Pesantren Walisongo & Aryadi Nusantara. Ponpes tersebut dipimpin oleh Qomarudin yang juga menjabat sebagai Ketua MUI Kabupaten Lampung Utara.

‎Desakan agar Qomarudin mundur dari jabatannya kian menguat dari berbagai elemen masyarakat. Namun hingga saat ini, belum ada langkah tegas dari MUI Provinsi Lampung.

‎”Tutup saja Ponpes Walisongo yang telah menjadi sarang maksiat!” ketus Adi Candra saat ditemui awak media, Selasa (27/10/2026).

‎Adi sangat menyayangkan diamnya tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah daerah setempat yang membiarkan dugaan kekerasan terhadap anak ini terus berlarut-larut.

‎”Ada apa sebenarnya? Di mana peran Pemerintah Daerah dan Kantor Kementerian Agama? Mengapa tidak segera menutup ponpes yang ternyata tidak memiliki izin resmi? Mau apa pun alasan Qomarudin, perbuatan ini tidak bisa dibenarkan. Apalagi kasusnya sudah jelas, dugaan pencabulan dan kekerasan terhadap anak!” tegasnya.

‎Tidak hanya sekadar berdesak, Adi Candra menegaskan dalam waktu dekat dirinya akan terbang langsung ke Jakarta untuk melaporkan persoalan ini kepada pihak tertinggi.

‎”Saya akan hantarkan laporan ini langsung ke Ketua MUI Pusat, Menteri Agama RI, Komisi VIII DPR RI, dan juga kepada Kak Seto. Masalah ini jangan dianggap sepele, karena ternyata kasus serupa sudah sering terjadi di tempat yang sama,” ungkap Adi dengan suara meninggi.

‎Ia menggunakan peribahasa untuk menggambarkan situasi ini”Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

‎”Betapa kecewanya masyarakat dan orang tua yang menitipkan anak-anak mereka untuk menimba ilmu agama, justru menjadi korban predator anak di tempat itu!” tandasnya.

‎”Belum tentu hanya lima anak ini. Ini baru satu orang tua yang berani melapor ke aparat hukum. Bagaimana dengan anak-anak lain yang masih takut dan keluarganya belum berdaya?” tanyanya.

‎Adi juga membongkar fakta yang sangat mencurigakan. Menurut informasinya, ponpes yang menampung banyak santriwi tersebut sama sekali tidak dipasangi kamera pengawas.

‎”Tidak ada CCTV sama sekali! Bukankah ini sengaja agar segala kebejatan yang terjadi di dalamnya tidak terekam dan tertutup rapat selama ini?” bongkar Adi.

‎Di akhir pernyataan, Adi Candra menyatakan sikap tegas dan terbuka:

‎”Saya, Adi Candra, Ketua DPC Laskar Lampung Indonesia, dengan ini menyatakan PERANG TERBUKA TERHADAP PREDATOR ANAK. Kami tidak akan diam sebelum keadilan ditegakkan dan Ponpes Walisongo ditutup!”

‎Sementara Kemenag Lampung Utara serta pengelola Ponpes Walisongo saat dikonfirmasi belum dapat menanggapi pemberitaan ini.

‎ (Berami)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *