Lampung Selatan– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lampung Selatan menyimpan masalah serius. Dari 123 dapur SPPG yang tiap hari masak untuk ribuan siswa, hanya 43 dapur yang punya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SHLS).
Artinya, 65% dapur MBG di Lamsel belum terjamin 100% aman dari sisi sanitasi.
Plt Kepala Dinkes Lampung Selatan, Devi Arminanto, SKM, MM, tak menutupi fakta itu. “Baru 43 yang kantongi SHLS. Sisanya 80 dapur masih kejar sertifikasi,” katanya.
Masalahnya bukan di SDM. Devi menyebut mayoritas pengelola sudah ikut pelatihan penjamah makanan. Yang bikin macet urusan administrasi.
Tiga PR besar dapur MBG Lamsel, diantaranya belum inspeksi kesehatan lingkungan, air masak belum uji lab dan peralatan dapur belum dikalibrasi .
“Ini bukan formalitas. SHLS itu jaminan. Kalau belum ada, kami nggak bisa pastikan 100% aman untuk anak-anak,” tegas Devi saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp,Kamis(9/4).
Sementara itu, Korwil SPPG Lamsel Alfa Rizi memilih bungkam.Dihubungi sejak kemarin via telepon dan WhatsApp soal lambatnya sertifikasi, Alfa Rizi tak memberi jawaban substantif. Tak ada penjelasan, tak ada rencana percepatan.
Padahal 80 dapur tanpa SHLS tetap beroperasi setiap hari sekolah, menyajikan makanan untuk ribuan siswa SD sampai SMA.
Satgas SPPG Lampung Selatan mencatat, skala program ini terus membesar.Berdasarkan data Satgas, saat ini terdapat 123 SPPG yang telah beroperasi di Kabupaten Lampung Selatan, 13 unit telah dibangun namun belum beroperasi, serta 34 unit masih dalam proses pembangunan.
” Dengan demikian, total keseluruhan mencapai sekitar 170 SPPG dan jumlah tersebut diproyeksikan terus bertambah seiring penyesuaian petunjuk teknis berbasis kebutuhan riil di lapangan,” ungkap Tri Umaryani, selaku Wakil Ketua Satgas MBG Kabupaten Lampung Selatan,pada Rakor perdana 2026, di Aula Rajabasa, Kantor Bupati Lampung Selatan, Rabu (4/3/2026).
Artinya, potensi masalah higiene bisa ikut membengkak jika sertifikasi tidak dikebut.
Dinas Kesehatan mengaku tidak tinggal diam. “Petugas kami siap dampingi sampai beres. Targetnya 123 dapur harus bersertifikat semua,” janji Devi.
Namun janji itu berpacu dengan waktu. Setiap hari, ribuan porsi makanan dari dapur tak bersertifikat tetap masuk ke mulut siswa.
Pertanyaannya kini hanya satu: sampai kapan anak sekolah Lampung Selatan harus makan dari dapur yang belum laik higiene?











